Khutbah Jum’at Masjidil Haram 14 Muharram 1441 H – Part 1

Khutbah Jum’at Masjidil Haram 14 Muharram 1441 H ini ditulis ulang berdasarkan sumber naskah Khutbah Jum’at yang telah diterjemahkan.  Dengan demikian, naskah ini bukan dibuat dan milik UmrohMandiri.Net. Berikut adalah kutipan naskah Khutbah Jum’at Masjidil Haram tanggal 14 Muharram 1441 H.

Khutbah Jum’at, 14 Muharram 1441 H

Ma’aly asy-Syaikh Dr. Abdurrahman as-Sudais

Ringkasan Aqidah Salaf

Khutbah Pertama

Khutbah Pertama 14 Muharram 1441 H

Sesungguhnya pujian hanyalah milik Allah. Maha Suci Dia, DzatNya, sifatNya dan keindahanNya;
kemuliaan, keagungan, ketinggian dan kebesaranNya.

BagiMu segala puji, pujian yang baik dan penuh berkah
BagiMu segala puji wahai pelindung kami, Engkaulah sandaran kami
BagiMu segala puji dengan pujian tertinggi, juga syukuran dan sanjungan
Yang paling mulia paling suci dan paling utama

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dengan persaksian yang
membuat hati tunduk dan melaksanakan perintah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita, Muhammad, adalah hamba Allah dan rasulNya, orang yang terbaik dalam mengagungkan Allah, baik dengan ucapan dan perbuatan. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, kepada keluarganya yang keutamaan mereka selalu tercurah, juga kepada para sahabat yang membela Islam dengan gagah berani dan kepada para tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan baik sepanjang masa.

Amma ba’du

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah. Ketahuilah bahwa takwa adalah cahaya dan lentera hati menuju rasa takut kepada Allah, juga merupakan jalan menuju kecintaanNya dan tangga menuju ke haribaanNya, juga bukti dan tanda rasa tunduk kepadaNya.

Q.S 59:18
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Terjemah :
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Khutbah Jumat

Ketakwaan adalah bekal terbaik yang kau pikul
Dan kebajikan adalah yang paling baik yang didapatkan manusia
Dan dalam ketakwaan terdapat banyak pelajaran yang menyembuhkan hati
Bagaikan hujan yang menyegarkan bunga-bunga

Wahai kaum muslimin
Di masa keterbukaan media internasional yang mempesona dengan berbagai salurannya, teknologinya,
globalisasinya, jaringannya, keunikannya dan inovasinya, manusia yang cerdik cendikia mesti memiliki manhaj yang jelas, yang dapat menerangi jalan, agar terhindar dari pemahaman yang rendah dan agar meningkat ke tingkatan yang tinggi menuju tangga-tangga yang ditempuh orang-orang yang berjalan menuju Allah. Hal itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan iman yang kokoh dan aqidah yang teguh di atas manhaj as-Salaf ash-Shalih. Dalam ash-Shahihain, dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda, yang artinya :

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah itu, lalu orang-orang sesudah
mereka.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Siapa yang hendak meneladani, maka teladanilah mereka yang telah
meninggal. Karena manusia yang masih hidup tidak aman dari godaan. Mereka adalah para sahabat Nabi SAW. Mereka adalah bagian umat yang paling penuh kebajikan hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya. Mereka adalah golongan yang Allah pilih untuk mendampingi NabiNya dan menegakkan agamaNya.”

Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz r.a. berkata, “Rasulullah SAW meninggalkan ajaran-ajaran, dan para pemimpin setelahnya juga meninggalkan aturan-aturan, yang mana menurutinya merupakan bentuk pelaksanaan terhadap Kitabullah dan penyempurnaan terhadap ketaatan kepada Allah juga kekuatan dalam agama Allah. Tidak ada seorang pun yang boleh merubahnya atau menggantinya, atau membahas sesuatu yang menyelisihinya. Siapa yang berpedoman dengannya, maka ia mendapat petunjuk. Dan siapa yang meminta pertolongan dengannya maka dia ditolong. Dan siapa yang meninggalkannya lalu mengikuti selain jalan kaum mukminin, Allah biarkan dia berpaling ke arah yang dia pilih. Dan Allah masukkan dia ke jahannam. Dan itulah tempat kembali terburuk.”
Diriwayatkan dengan sanad shahih dari Imam Malik, perkataan beliau, “Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali dengan apa yang membuat baik awalnya.”

Wahai kaum muslimin
Rambu pertama dari rambu-rambu Aqidah Salaf yang bersih dan murni adalah concern terhadap Tauhid yang murni kepada Allah. Allah berfirman,

Q.S 39:3
اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ

Terjemah :
Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik).

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :

“Amal hanyalah dinilai dengan niatnya. Seseorang hanyalah mendapatkan apa yang dia niatkan.” [HR alBukhari]

Tauhid kepada Allah mencakup tauhid uluhiyyah, rububiyyah serta tauhid berkenaan nama-namaNya dansifat-sifatNya.

Tauhid kepada Allah mencakup tauhid uluhiyyah, rububiyyah serta tauhid berkenaan nama-namaNya dan sifat-sifatNya.

Q.S 7:180
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Terjemah :
Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Di samping Tauhid memiliki kedudukan yang agung, memelihara tauhid dan merealisasikan konsekuensikonsekuensinya, terutama di dalam penerapan dan medan pengamalan dan sikap, termasuk tujuan terpenting dalam seluruh kehidupan. Karena tujuan syariat yang paling agung adalah memelihara agama dalam berbagai dimensinya, menjaga aqidah dari segala bentuk penyimpangan, berbagai macam kesyirikan dan bid’ah.

Khutbah Jumat Masjidil Haram

Kewajiban pertama atas para hamba adalah

Mengenal Yang Maha Penyayang dengan mentauhidkanNya

Dia satu-satunya yang mencipta dan memiliki kehendak mutlak

Dan pemutus segala hal dengan kehendakNya

 

Khutbah Jum’at Masjidil Haram 14 Muharram 1441 H – Part 2

One thought on “Khutbah Jum’at Masjidil Haram 14 Muharram 1441 H – Part 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *