Khutbah Jum’at Masjidil Haram 14 Muharram 1441 H – Part 2

Wahai kaum muslimin

Rukun aqidah Salaf adalah: iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, dan para rasulNya, Hari Akhir, dan takdir yang baik dan buruk. Termasuk dalam iman kepada Allah adalah iman dengan apa yang Allah sifati tentang diriNya di dalam KitabNya, dan dengan apa yang Rasulullah SAW sifatkan tanpa penyimpangan, penegasian, penggambaran atau penyamaan dengan makhlukNya.

Q.S 42:11
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Terjemah :
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.

Ulama Salaf tidak menafikan apa yang Allah sifatkan terhadap diriNya. Mereka tidak menyelewengkan perkataan dari tempatnya. Tidak menyimpangkan nama-nama Allah dan ayat-ayatNya. Tidak menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya, karena Allah tidak ada yang sama dengan namaNya, sifatNya, tidak ada tandingan bagiNya.

Q.S 19:65
هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا

Terjemah :
Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

Maha berkah, Dialah Allah yang Maha Agung
Maha dermawan, Maha Mulia, Maha Sempurna tidak dapat disamakan
Kemuliaan DzatNya tak dapat digambarkan
lebih mulia dari segala sifat, lebih tinggi dan lebih sempurna

Kemudian iman dalam keyakinan Salaf adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan. Perkataan dengan lisan, pengamalan dengan tubuh dan keyakinan dalam hati. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Q.S 98:5
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Terjemah :
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :

Iman terdiri dari tujuh puluh dan beberapa cabang, yang tertinggi adalah perkataan ‘laa ilaah illallah’ dan yang paling bawah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah bagiana dari iman. [HR Muslim]

Rasulullah SAW menjadikan perkataan dan perbuatan termasuk dalam keimanan.
Allah berfirman,

Q.S 9:124
فَزَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ …..

Terjemah :
… maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.

Dan Allah berfirman,

Q.S 48:4
لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ

Terjemah :
…. untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).

Iman bertambah dengan amal dan berkurang dengan maksiat dan dosa.

Wahai umat Islam
Aqidah Salaf adalah aqidah yang pertengahan antara berlebihan (ifrath) dan mengurangi (tafrith). Mereka pertengahan dalam masalah Sifat Allah, dalam masalah janji Allah, dan dalam masalah substansi keimanan dan agama, dalam masalah sahabat Nabi SAW, dan dalam segala urusan.

Q.S 2:143
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا

Terjemah :
Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan”

Wahai orang yang menginginkan keselamatan di hari perhitungan
keselamatan dari neraka jahim dan api siksaan
ikutilah Rasulullah dalam perkataan dan perbuatan
jangalah keluar dari al-Qur’an
Ambillah dua kitab Shahih yang merupakan
Penyambung untaian agama dan iman

Seluruh yang ada dalam al-Qur’an atau hadits shahih dari Nabi SAW tentang sifat Allah, wajib diimani kepadanya, dan wajib diterima. Tanpa menolak atau menta’wilkannya, atau menyamakan dengan makhlukNya. Sedangkan apa yang sulit dipahami, wajib ditetapkan lafazhnya dan tidak mengutak-atik maknanya, lalu kita mengembalikan pengetahuan tentang itu kepada Allah yang menurunkan firmanNya. Dan kita sandarkan kepada perawinya. Mengikuti jalan orang-orang yang dalam ilmunya. Allah berfirman:

Q.S 3:7
وَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Terjemah :
Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.”

Dan Allah berfirman mengecam orang-orang yang mancari-cari ta’wil ayat-ayat yang mutasyabihat,

Q.S 3:7
فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ

Terjemah :
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya,

Allah mengganggap mencari-cari ta’wil sebagai tanda serongnya hati dan menyandingkannya dengan sifat mencari-cari fitnah dalam konteks kecaman. Kemudian Allah halangi mereka dari hal yang mereka inginkan dan Allah putuskan harapan mereka terhadap apa yang mereka inginkan dengan firmanNya,

Q.S 3:7
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ

Terjemah :
…. padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.

Allah SWT di atas langit, bersemayam di ArsyNya. Tinggi di atas makhlukNya. Dia bersama makhlukNya di mana pun merek berada. Al-Qur’an al-Karim adalah kalamNya, diturunkan, ia bukan makhluk. Dan di antara kelengkapan aqidah Salaf adalah beriman kepada hari dikumpulkannya semua makhluk, beterbangannya lembaran-lembaran amal, disebarkannya catatan-catatan, diletakkannya timbangan untuk semua makhluk, adanya shirath, syafaat, dan bahwa surga dan neraka telah diciptakan dan tidak fana; dan bahwa orang-orang beriman akan melihat Tuhan mereka di hari kiamat sebagaimana mereka melihat bulan di malam purnama.

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

Dan dinyatakan juga bahwa Allah di hari kiamat
akan dilihat oleh mereka yang beriman
dengan terang mereka melihat Allah di atas langiNya
dengan pandangan mata sebagaimana mereka melihat matahari dan bulan

Dalam masalah jamaah dan imamah, mereka mewajibkan mengikuti jamaah dan imamah. Mereka menaati Allah dengan mendengar dan taat pada pimpinan, berbeda dengan kaum khawarij.
Imam ath-Thahawi berkata, “Kami memandang jamaah adalah kebenaran dan perpecahan adalah kesesatan dan siksaan.”

Beliau juga berkata, “Kami tidak memandang bahwa memberontak kepada pemimpin kami meskipun mereka berbuat zalim, kita tidak mendoakan yang buruk untuk mereka dan tidak menarik komitmen ketaatn kami. Karena ketaatan kepada mereka termasuk ketaatan kepada Allah dan merupakan kewajiban, selama kami tidak diperintahkan kepada kemaksiatan. Dan kami mendoakan kebaikan dan kesehatan bagi mereka.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang dikabulkan, aku akan arahkan untuk pemimpin.”

Mereka tidak mengkafirkan seseorang karena dosa yang dia perbuat selama dia tidak menganggapnya halal. Mereka mewanti-wanti tentang pengkafiran, peledakan dan perusakan. Mereka menghormati para ulama rabbaniyyin.

Imam ath-Thahawi berkata, “Para ulama salaf yang terdahulu dan para tabi’in sesudah mereka adalah orang-orang yang memiliki kebaikan dan meriwayatkan atsar, ahli fiqh dan memiliki pandangan. Mereka tidak boleh disebut kecuali dengan sebutan yang baik. Dan siapa yang menyebut mereka dengan buruk, maka ia tidak berada di jalan yang lurus.”

Di antara ciri aqidah Salaf adalah bersaudara dalam aqidah dan manhaj. Allah berfirman,

Q.S 49:10
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

Terjemah :
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara,

Allah juga berfirman,

Q.S 3:103
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

Terjemah :
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,

Hati mereka bersih terhadap orang-orang beriman. Dada mereka bersih dari kedengkian terhadap kaum muslimin.

Q.S 59:10
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Terjemah :
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

Maka tidak ada fanatisme golongan, aliran, madzhab, golongan atau rasialisme. Yang ada hanyalah ajakan untuk berpegang teguh, meninggalkan perpecahan, menampilkan kasih sayang dan toleransi, meninggalkan kekerasan dan perseteruan, memperkuat dialog, menjalin harmoni, menjauhi benturan dan perselisihan. Inilah selayang pandang aqidah Salaf pendahulu kita. Para pendahulu kita, semoga Allah meridhai dan merahmati mereka. Dan hal itu adalah lebih selamat, lebih sesuai dengan ilmu dan lebih bijaksana.

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

Wahai orang yang ingin keselamatan dirinya

Dengarkanlah perkataan seorang yang tulus dan ingin membantu

Hendaklah dalam segala hal kau berpegang teguh

Dengan wahyu, bukan dengan hiasan perkataan orang yang mengigau

Ikutilah Kitabullah dan Sunnah-sunnah yang datang

Dari Nabi yang diutus untuk membedakan antara hak dan bathil

Dan muslim sejati slogannya adalah:

 

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

Aku tidak memiliki syariat selain syariat kebenaran
Dan aku tidak memiliki madzhab selain madzhab kebenaran

Jika kau telah mengetahui maka konsistenlah. Segala kebaikan ada pada mengikuti orang-orang terdahulu, dan segala keburukan ada pada bid’ahnya orang-orang yang kemudian.

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

Urusan terbaik adalah yang telah berlalu di atas petunjuk
Dan urusan terburuk adalah bid’ah-bid’ah yang diada-adakan

Kita memohon kepada Allah agar menghidupkan kita di atas aqidah yang benar, dan mematikan kita di atas manhaj yang benar dan tegas, dan juga memberikan kita keyakinan benar dan membimbing kita di atas jalan yang lurus.
Allah berfirman,

Q.S 6:153
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Terjemah :
Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

 

Khutbah Kedua

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

Segala puji bagi Allah yang memiliki kemuliaan dan kekuasaan. BagiNya nama-nama yang terbaik dan sifat-sifat yang agung. Aku memujiNya. Tidak ada yang luput dariNya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Persaksian yang merupakan gizi dan nutrisi bagi hati. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kami, Muhammad, adalah hamba Allah dan rasulNya. Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam dan keberkahan kepadanya, keluarganya, para sahabatnya yang memiliki keikhlasan ketika berucap dan diam, juga kepada para tabi’in dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.
Amma ba’du
Wahai para hamba Allah
Bertakwalah kepada Allah, dan agungkanlah Dia. Takutlah kepada Allah, senantiasalah merasakan pengawasan Allah, niscaya akan baik keadaan kalian di dunia dan akhirat.
Saudara sekalian
Di awal tahun ajaran baru ini, seruan diarahkan kepada para pengajar untuk memperhatikan ilmu-ilmu aqidah dan syariah, menanamkan aqidah salaf dalam jiwa generasi muda, dalam perkataan dan keyakinan, juga memanfaatkan teknologi, media massa, media sosial dan berbagai bahasa untuk menyebarkan aqidah yang murni ini, juga memperkuat manhaj wasathi, dan memerangi terorisme. Agar kita semua menikmati keamanan, ketenteraman, dan keimanan.
Di antara bentuk persaudaraan yang tulus adalah seruan untuk solidaritas Islam dan memperhatikan masalah-masalah umat Islam, dan yang utama adalah masalah Palestina. Ia adalah persoalan umat Islam yang nomor satu. Ia memiliki kedudukan religius dan historis. Dan negeri ini, Kerajaan Saudi Arabia, sejak pendiriannya memiliki sikap yang tetap terhadap dukungannya dan mengusahakan keamanan dan kedamaian di bumi Palestina. Palestina ada di hati umat. Walaupun ada orang-orang yang mengincar dan menambah-nambah. Tidak ada tawar-menawar atau konsesi walaupu banyak tantangan dan tekanan. Ajakan Kerajaan Arab Saudi untuk konferensi luar biasa menteri-menteri luar negeri negara-negara OKI menegaskan kesungguhan Negeri Dua Tanah Suci terhadap makna-makna luhur ini, yaitu persaudaraan dan solidaritas Islam di seluruh penjuru dunia, dan juga menegaskan bahwa masalah al-Aqsha ada dalam lubuk hati Pelayan Dua Tanah Suci dan Putera Mahkotanya juga seluruh kaum muslimin.
Semoga Allah memelihara Negeri Dua Tanah Suci dan al-Aqsha, juga tempat-tempat suci kaum muslimin di Timur dan Barat bumi dari segala keburukan. Dan semoga Allah menyingkirkan tipu daya orang-orang yang membuat tipu daya, kejahatan orang-orang yang melanggar. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mangabulkan.

Demikianlah, mari kita panjatkan shalawat dan salam kepada manusia terbaik, dengan shalawat yang merebak wanig dan menear bunga, sebagaimana Allah memerintahkan kalian dalam KitabNya, Allah berfirman,

Q.S 33:56
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Terjemah :
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

Dan Rasulullah saw bersabda, yang artinya

“Siapa yang bershalawat untukku satu shalawat, maka Allah bershalawat untuknya dengan itu sepuluh shalawat.”

Khutbah Jum'at Masjidil Haram

Tuhanku, limpahkan shalawat dan salam
kepada hamba terbaik yang menghapus bid’ah
juga kepada keluarga, para sahabat dan orang-orang shalih
dan siapa pun yang berjalan di jalan mereka

One thought on “Khutbah Jum’at Masjidil Haram 14 Muharram 1441 H – Part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *